Moelyono Soesilo dan Bisnis Kopi



Selebrasi International Coffee Day dikemas diacara seminar Espresso Yourself di Pusat Kebudayaan Amerika, yang lebih tenar dengan sebutan @america menjadi panggung beberapa nama tenar di khasanah perkopian Indonesia. Salah satunya Moelyono Soesilo dari PT Taman Delta Indonesia. Beliau menjadi pembicara dengan latar belakang sebagai eksportir kopi dan penikmat kopi.

Sebagai eksportir kopi dengan berpengalaman, beliau mempresentasikan merosotnya peringkat Indonesia dari no 2 menjadi no 4 dijajaran negara pengekspor kopi dunia, tergeser oleh Vietnam. Padahal terdapat beberapa Speciality Coffee dari Indonesia yang diakui dunia seperti Gayo Lintong dan Java Panegar. Juga terdapat Fine Robusta seperti Wash Java dan Flores Manggarai. Kondisi perkebunan yang mengandalkan pengolahan dengan cara lama warisan pemerintah kolonial turut berdampak kepada hasil panen. Vietnam mampu menghasilkan 5 hingga 6 ton biji kering kopi siap sangrai, jauh meninggalkan Indonesia hingga separuhnya.

Berbicara bisnis kopi, ternyata tidak melulu soal seduh menyeduh bubuk kopi. Terdapat beberapa masalah pelik yang harus diselesaikan antara pelaku bisnis kopi dan pemerintah. Satu contohnya adalah rantai bisnis yang panjang dan belum menguntungkan petani. Terdapat rantai antara petani melewati pengepul desa, lalu ke pengepul kota hingga ke pengekspor atau pengolah bubuk kopi. Harga jual mudah dipermainkan di tingkat pengepul desa dan pengepul kota. Sebagai gambaran, negara Costa Rika mewajibkan petani mendapat 80 persen dari harga ekspor, sementara disini harga dibiarkan mengambang tanpa pengawasan apapun dan diserahkan melalui mekanisme pasar bebas. Pun demikian dengan Bursa Komoditi berjangka, hanya sebatas kertas dan belum berjalan maksimal.

Masalah transportasi dan infrastruktur juga mempunyai andil dalam bisnis ini. Dengan yakin, pak Moelyono menyebutkan pembelian satu container kopi jenis Mandheling Medan lebih murah dilakukan dari Singapura hingga mencapai Semarang daripada dari kota Medan langsung. Gambarannya, dibutuhkan biaya transportasi sekitar Rp 5.600.000 per container jika membeli dari Singapura. Angka Rp 12.000.000 merupakan biaya yang harus dikeluarkan jika membeli dari Medan, belum ditambah waktu yang lebih lama. Mengambil simpulan dari dua contoh diatas, maka tak heran produsen kopi memilih jemput bola dengan mendatangi petani langsung, melakukan transaksi dengan harga tinggi. “Kalau kita tidak menghargai kopi, bagaimana kita membantu petani? ” katanya sambil menutup presentasi.


Oleh : Tommy Hutomo

About

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Phasellus porttitor lacus vel risus ullamcorper tempor. Pellentesque vestibulum vulputate odio sit amet adipiscing.

Photo Gallery

more

Recent Posts

Twitter

  • @templatemo at scelerisque urna in tellus varius ultricies.
  • Suspendisse enean #FREE tincidunt massa in tellus varius ultricies.
  • Aenean tincidunt massa in tellus varius ultricies. http://bit.ly/13IwZO